Rabu, 22 April 2020

Cerpen


Ayahku Lebay



By. Febi Intan T


"Ayaaah!” 

Suara Ibu berteriak, saat sinar matahari baru saja menguapkan embun yang menggelayut manja di ujung dedaunan dan rumput-rumput di halaman. Ayah yang sedang asyik menyeruput secangkir kopi di hari liburnya, terlonjak kaget mendengar suara berintonasi tinggi.  Dengan tergesa, ia segera menghampiri Ibu yang sedang berada di kamar mandi.

"Ada apa, Bu?"

"Ini, loh, Farhan. Dari tadi susah banget diajak mandi. Udah masuk kamar mandi malah gak mau lepas baju," ujar Ibu kesal.

Wajah Farhan menunduk, takut jika Ayah marah.

"Kenapa, Han? Udah mau siang. Gak malu sama matahari yang udah bersinar terang menerangi bumi?" 

"Lebay, deh, Ayah!" kataku, yang sedari tadi memperhatikan mereka dari pintu dapur, menunggu tempe goreng yang siap dibalik.

Ayah menatap ke arahku. Ia lalu memonyongkan bibir, mengirim cium jauhnya. Bahuku bergidik, menutup wajah dengan piring untuk tempat tempe nanti.

“Farhan gak mau mandi, Yah--” ucap Farhan nyaris tak terdengar dengan pandangan mata yang menunduk.

"Loh, loh. Kenapa?"

Ayah lalu masuk ke kamar mandi menggantikan Ibu, sedang Ibu melanjutkan menjemur sebagian pakaian yang telah dicuci subuh tadi.

"Farhan takut. Tadi malam, saat buang air kecil, Farhan liat kecoak di dekat bak mandi, Yah."

"Apa? Kecoak?" Mata ayah sedikit membulat.

"Lebay!”  seruku, sambil mematikan kompor.

"Mbak!"

Ayah memanggilku yang sedang lewat melintas setelah selesai menggoreng tempe.

"Apa, sih, Yah?” sungutku.

"Adik kamu liat kecoak!” kata Ayah.

“Terus kenapa, Yah? Kita ‘kan emang pelihara kecoak, tikus, cecak juga semut,” candaku.

“Ish, Mbak, nih!” Ayah memajukan bibirnya, merajuk.

"Wah, iya. gawat itu! Kecoaknya nanti gigit burung Farhan yang belum sunat," selorohku menakuti Farhan.

Bibir Farhan mulai melengkung ke bawah, siap mengeluarkan suara tangisnya.

"Stop!" kata Ayah, telunjuknya menyentuh bibir Farhan. "Kamu mau kecoaknya pergi dan gak datang lagi, ‘kan?

Farhan manggut-manggut, matanya menatap mata ayah yang sedang memasang mimik serius di hadapannya.

" Ayo, kita cuci baju Farhan! Bajunya dilepas, Nak! Kecoak suka yang kotor dan bau." Ayah mengambil sebuah ember kecil di pojok pintu kamar mandi. "Mbak, ambilin detergen di dekat mesin cuci!"

"Aku pula." Dengan terpaksa aku mengambil sabun untuk cuci baju yang tak begitu jauh dari tempatku berdiri.

"Nih, Yah!" 

Tanganku menyodorkan sebungkus detergen pada lelaki berkulit sawo matang itu. Ayah ternyata sudah berhasil membuat Farhan mau melepas baju.

Aku lalu meninggalkan mereka untuk melihat acara kesukaanku di televisi.

"Ayo, Yah! Bikin balonnya lebih besar!"

Suara Farhan dan Ayah terdengar sampai ruangan di mana aku sedang menonton acara kuis kesukaan. mereka sepertinya sedang bermain gelembung sabun. Acara mandi yang panjang. Yah, begitulah ayah kami, ada saja idenya untuk membuat anak-anaknya beraktivitas dengan cara yang menyenangkan.

“Sekarang Farhan gak usah takut lagi! Kecoaknya gak akan berani datang,” ujar Ayah sambil menghanduki badan kecil Farhan.

“Bener, Yah? Emang kenapa?” ucap Farhan sedikit tak percaya.

“Tadi, kan kita udah bersihin kamar mandinya, baju kotor Farhan juga dicuci, Farhan sendiri udah wangi.” Ditempelkan Idung Ayah pada lengan Farhan, lalu ia sedikit mendengus. “Kecoak gak akan berani kalau kita bersih begini.”

“Mbak, masih bau tuh, Yah. Belum mandi!” 

Farhan mengarahkan jari telunjuknya kepadaku. Sepasang mata itu mendelik, menatap tajam ke arahku yang sedari tadi mendengar perbincangan mereka, disela jeda iklan di televisi. Aku hanya memamerkan senyum malu-malu.

***

"Ayaaah!"

Aku memanggil ayah dari halaman rumah. Sesaat kemudian ayah keluar menghampiri.

"Kenapa, Mbak?"

"Sepedaku, bannya kempes." Bibirku sengaja di monyongkan.

"Oh, sebentar!"

Ayah masuk kembali ke rumah. Tak berapa lama, ia kembali membawa pompa. Lelaki itu mulai memasukkan selang pompa ke pentil sepeda, lalu mulai memompa rodanya yang kempes.

"Nah, udah. Mbak mau sepedaan ke mana?"

"Gak tau, mau main tapi gak ada teman." Sengaja aku memasang wajah memelas di depan Ayah.

"Farhaaan!" Ayah memanggil anak berusia lima tahun itu.

"Apa, sih, Yah? Teriak-teriak," tanya Ibu yang membawa bungkus belanjaan, ia baru saja kembali dari warung dekat rumah.

"Loh, Farhan yang dipanggil, kok, bidadari yang nyaut?"

"Heleh," ucapku dan Ibu bersamaan.

Akhirnya ayah yang masuk mencari Farhan, Lalu keluar kembali dari arah belakang. Ia  mengendarai sepeda berboncengan dengan anak lelakinya itu.

"Ayo, Mbak! Kita jalan-jalan!."

"Mau ke mana, Yah?" tanya ibu

"Muter keliling kompleks aja, Bu. Ibu masak yang enak, ya! Kita gak lama. Ibu jangan rindu! rindu itu berat. Biar Ayah aja!" Ayah mengedipkan sebelah matanya.

"Heleh. Dasar, dilanda kegombalan!" ujar Ibu sambil melangkah pergi, memasuki rumah.

Kami bertiga mengendarai sepeda, mengayuh roda dua melewati beberapa blok di kompleks perumahan. Setelah kaki terasa pegal, kemudian kami berhenti sejenak di taman untuk istirahat. Ayah, aku dan Farhan duduk di bundaran, di mana terdapat pohon yang rindang. Sesekali embusan angin menerpa tubuh, terasa sejuk menyentuh bulir keringat di kulit.

***

Senja menggelincir, langit berubah menjadi gelap. Pintu dan jendela sudah tertutup rapat sejak magrib tadi. Cahaya alam digantikan oleh sinar lampu yang menerangi tiap sudut ruang. 

Di ruang keluarga, Farhan tengah merengek. Ia bersikukuh tak mau tidur di kamarnya sendiri. Adikku meminta tidur dengan Ayah dan Ibu. Ibu sudah berusaha membujuk anak lelakinya itu, tapi tetap tidak berhasil.

"Kenapa? Biasanya Farhan pinter, mau bobo sendiri," ucap Ibu dengan jemari membelai rambut Farhan di pangkuannya.

"Iya. kenapa, Nak?" Ayah pun ikut bertanya.

"Mbak Ratih cerita, katanya ada hantu di kamar." Bibir anak lelaki itu mengerucut.

Sontak dua pasang mata itu mendelik ke arahku yang sedang berpura-pura membaca buku.

"Gak ada! Hantunya lagi sibuk baca buku," sindir Ibu.

"Emmm, gitu ya? Farhan sama Mbak udah salat Isa belum?" tanya Ayah.

Aku dan Farhan menggeleng bersamaan.

"Pantesan. Yang satu takut, yang satu nakutin," ujarnya, "ayo, wudu terus salat Isa! Hantu takut sama orang yang badannya bersih dan sudah salat.”

Aku dan adikku pun segera melaksanakan apa yang ayah perintahkan. Kami bertiga bersiap untuk salat berjamaah.

"Ibu gak salat?" tanya Farhan,  melihat Ibu asyik nonton sinetron kesayangan ‘Handphone yang Tertukar’.

"Ibu datang bulan," jawab Ibu dengan mata yang fokus pada layar televisi.

"Bulan? Farhan juga mau liat!” katanya antusias.

Dahi Ibu mengerut. Bukan karena faktor usia, tapi karena keinginan anak lelakinya.

"Udah buruan salat sana!"

"Ish, jangan gitu dong, Bu, jelasinnya!" tukas Ayah. "Ibu lagi gak salat, lagi keluar darah kotor jadi dilarang salat, Nak."

"Kasihan Ibu.” Raut wajah adikku mendadak sedih. “Kita bawa ke dokter, Yah!" ajak Farhan menarik tangan ayah.

Aku terkekeh melihat celotehan Farhan yang usianya beda sembilan tahun denganku itu.

"Ish, udah ayo salat!" Ayah menggandeng tangan Farhan menuju kamarnya, aku mengikuti langkah mereka.

***

Kami tidur di kasur Farhan yang cukup untuk bertiga. Ayah mengeloni Farhan yang akan tidur, sedang aku berbaring di samping adikku.

“Malam ini mau baca buku cerita apa?” tanya Ayah.

Farhan bangkit, lalu melangkahkan kaki kecilnya. Ia memilih buku yang berjejer rapi di rak.

“Ini aja, Yah!” Dia mengambil dan menunjukkan buku berwarna hijau dengan judul ‘The Giving Tree’.

Buku dengan gambar sebatang pohon dan seorang anak laki-laki. Buku itu bercerita tentang pohon yang selalu memberi tanpa pernah meminta apa pun sebagai balasan kebaikannya.

***

Setelah membacakan buku cerita, Ayah memintaku membimbing Farhan melafalkan surat-surat pendek dan doa mau tidur. 

"Kalau mau tidur Farhan harus baca doa, biar Allah ngelindungin Farhan. Hantu juga takut sama anak yang gak lupa baca doa. Oke?"

"Oke!" sahut Farhan.

“Yuk, baca doa mau tidur!” Tanganku ditengadahkan ke atas, dengan ekor mata yang sengaja melirik Farhan. Setelah aku yakin lelaki kecil itu mengikuti, barulah kami mulai membaca doa.

Tak lama akhirnya Farhan pun tertidur lelap, Ayah juga ikut tertidur di sampingnya.

Aku tersenyum sendiri menatap wajah Ayah yang dihiasi kumis tipis dan sedikit janggut di wajahnya.

Ayah memang sedikit lebay, tapi karena itu ia menjadi ayah yang menyenangkan di seluruh dunia. Aku sayang Ayah.

03 Agustus 2019

Cerita ini aku persembahkan untuk Bapakku yang selalu ada untuk anak-anaknya dan juga untuk Ayah dari anak-anak kami, Azkhansa. Terima kasih sudah menjadi ayah yang sering menghabiskan waktu untuk bermain dengan mereka setelah seharian lelah mencari nafkah.

Selasa, 07 April 2020





Penulis : Febi Intan T


MENUA BERSAMAMU


Sudah berapa hari ini aku melihat suamiku bersikap tak biasa. Wajah yang telah dihiasi banyak kerutan itu tampak murung, tatapan sendunya selalu tertuju pada pohon mangga di halaman rumah. Sesekali terdengar desahan napas darinya, seolah-olah ada yang tengah ia risaukan. Bahkan kini ia tak pernah lagi mengajakku bicara, seperti menceritakan banyak hal tentang masa lalu atau pun segala macam yang terlintas di pikirannya. Hanya hal-hal penting, seperlunya saja.

Apa ini karena rindu bertemu anak dan cucu? Lagi-lagi ia menyangkal saat kutanyakan hal itu untuk yang kesembilan kalinya. Mungkin memang bukan hal itu yang membuatnya seperti ini, lagi pula rumah anak-anak tak jauh dari sini. Mereka seminggu sekali selalu mengunjungi kami.

Ia tetap murung, duduk melamun berjam-jam memandang pohon mangga yang sudah lama tak berbuah. Lelaki dengan banyak uban itu hanya akan bergeming untuk memenuhi panggilan azan atau saat menyesap teh manis hangat dan gorengan di bale panjang tempat ia menghabiskan waktu.

Pagi ini saat matahari tengah merangkak naik, tatapan sendunya beralih padaku yang sedang menampi beras di teras. Sepertinya kali ini pesona pohon mangga telah berhasil aku kalahkan.

"Bu," panggilan itu terdengar lirih dari mulut yang menampakan gigi tak lagi utuh.

Aku yang memang sedang memandang wajah dengan sisa-sisa kharisma itu hanya menunggu kata-kata selanjutnya. Ia merenung, memandang lurus.

"Bu," ucapnya lagi. Sepertinya kali ini ia telah menemukan barisan kalimat yang tepat untuk diungkapkan. "Apa setelah dibangunkan dari kematian, kita akan bersatu lagi sebagai suami istri?"

"Itu Misteri kan, Pak?"

"Ya, tapi bapak sangat berharap bidadari surgaku itu sampean."

Lihatlah sudah setengah abad lebih usia, tapi rayuannya masih melelehkan seperti saat muda dulu.

"Memang sudah pasti masuk surga apa, Pak?" Aku tersenyum sambil melanjutkan mencari gabah atau kutu beras yang terlihat mata tuaku.

"Semua pasti pengen toh, Bu--" Ia sejenak terdiam, menarik napas lalu melanjutkan kembali ucapannya. "Akhir-akhir ini dadaku kok, ya, sesek tiap ngebayangin gak ada kamu. Seperti pohon mangga itu, berdiri sendiri. Biarlah aku duluan, Bu."

Mendung menggelayut di mata yang tak lagi berbinar itu. Kuletakkan tampi, melupakan kegiatan pagi ini. Meremas tangan yang kulitnya tak lagi kencang milik kakek bercucu empat di sampingku.

"Umur itu rahasia Allah, Pak. Siapa pun yang duluan di antara kita harus tetap kuat dan mendoakan." Aku meletakkan tangannya di pahaku, menepuk-nepuknya lembut. "Yang jelas. menjalani kehidupan dan berakhir dalam pelukan suami macem sampean adalah kebahagiaan buat aku."

Kali ini lelaki yang masih mempesona dalam balutan keriput di kulitnya itu tak bisa lagi menahan air mata. Selama pernikahan, hanya dua kali aku melihatnya menangis. Saat ia menyambut kelahiran anak pertama kami, dan hari ini.


CRBN, 05-02-2020


Senin, 06 April 2020




Penulis : Febi Intan T

RUMAH IMPIANKU


Hampir setengah jam sudah aku meringkuk di sudut kamar, ditemani Air mata yang tak henti membanjiri pipi. Telah kututup rapat pintu serta dua telinga dengan tangan, tapi teriakan-teriakan masih saja jelas terdengar.

Mereka bilang rumahku adalah surgaku. Namun, itu sungguh tak berlaku bagiku. Hawa panas terasa nyata begitu masuk ke dalamnya, percikan sedikit saja langsung menciptakan kobaran yang siap membakar para penghuni. Tak ada sedikit pun ketenangan di sini, kau tak akan pernah menemukannya di rumah ini.

Prank!

Aku menutup daun telinga lebih kuat dari sebelumnya. Kini bukan lagi suara gaduh dari mulut-mulut yang terus saling memaki satu sama lain, tapi benda pecah belah yang terbanting mencium keramik. Entah piring, gelas atau kah cermin.

Beberapa saat setelah itu, terdengar suara bantingan pintu disusul isakan tangis ibu. Seperti biasa. Yah, selalu seperti itu. Ayah akan pergi, dan ibu menangis--meraung layaknya anak kecil.

***

Mata ini perlahan terbuka, terlihat ibu menggenggam tanganku yang telah tertancap jarum inpus. Ia menyeka bulir bening yang menetes di pipinya.

"Kamu gak papa, Nak? Apa yang dirasa?"

Sungguh aku ingin mengatakan pada ibu bahwa aku tak baik-baik saja. Dada ini terasa sangat sesak. Namun, lidah terasa kelu untuk mengatakannya. Apa hal itu yang membuatku berada di sini? Terakhir yang kuingat, aku sedang bersembunyi di kamar ketika mendengar pertengkaran ayah dan ibu. Tak berapa lama, terdengar tangisan yang begitu menyayat dari perempuan yang telah melahirkanku itu. Saat aku hendak berdiri menghampirinya, tubuhku berguncang hebat lalu semua terasa gelap.

Kepalaku terasa sangat berat, mata ini seolah-olah ingin terpejam lebih lama. Andai saja suara bariton milik ayah tak terdengar saat itu juga, mungkin hati ini berdoa agar lebih baik Tuhan membawaku ke rumah yang baru. Rumah di mana tak ada pertengkaran dan caci maki di dalamnya.

"Dira kenapa, Rat?"

Ibu hanya menangis menjawab pertanyaan lelaki yang baru saja datang. Mataku menangkap sesuatu yang tak pernah dilihat sebelumnya. Ibu menenggelamkan diri dalam dekapan ayah.

"Dira rela sakit lebih lama," lirihku.

Mereka berdua menatapku, lalu keduanya saling beradu pandang. Ada mendung menggelayut di antara keduanya saat bersamaan menggenggam tanganku, erat.

"Maafkan ibu ...."

"Maafkan ayah juga, Nak."

Aku tersenyum lemah melihat mereka saling berangkulan. Sesak di dadaku pun berangsur menghilang. Sungguh aku tak menginginkan apa pun, selain tawa mereka di rumah sederhana yang kami punya.


Crbn, 06022020



Bayangan Kesedihan


Gemercik hujan semakin riuh terdengar seiring rinainya yang turun dengan deras. Aku menikmati suasana ini sambil mendengarkan lagu Adult oleh Sondia di bawah anak tangga menuju kelas.⁣
 ⁣
Embusan angin dan musik yang mengalun lewat headphone seolah-olah memindahkan langit mendung ke dalam mataku dan kemudian hujan turun di dasar hatiku. Sungguh ini adalah sesuatu yang tidak menyenangkan, tapi diri ini menikmatinya hingga larut dalam kesedihan yang tercipta begitu saja.⁣

Musik itu terus mengalun berlomba dengan bunyi air hujan yang turun.⁣

Satu persatu bayangan kesedihan itu muncul saat aku memejamkan mata, menikmati aroma hujan dan lirik lagu yang kuhafal.⁣

Bayangan sesosok lelaki bergelar ayah yang telah lama tak ditemui, tapi luka yang diberi tetap setia menggores hati.⁣

Tak berapa lama bayangan itu berganti oleh senyuman seorang wanita yang dipanggil ibu dengan kedua tangan merentang saat menyambutnya pulang. Ia lebih merindukan kejadian seperti itu daripada kehadiran ayah. Lebih tepatnya gadis ini membenci ayahnya, kurasa lelaki itulah penyebab sang ibu kini terpaksa harus pulang larut malam. Mungkin menyeleksi siapa yang lebih tepat untuk menggantikan posisi sang  ayah untuk gadis ini, karena hampir tiap hari wanita itu pulang dengan lelaki yang tak sama. Entahlah.⁣

Sesaat aku menghela napas panjang, membuka kedua mata tepat pada dahan yang menari tersentuh rintik hujan.⁣

Aku mematikan musik di gawai, beralih pada fitur perekam suara.⁣

“Ini hampir sama seperti sepuluh tahun yang lalu. Langit yang mendung dan hujan turun sangat deras. Aku pun duduk di sini, di tempatmu.” Aku menghela napas, memandang lapangan basket yang sepi dalam guyuran air hujan.⁣

“Aku mengerti kenapa lesung pipimu kini jarang terlihat lagi. Kesepian itu sepenuhnya telah membuatmu menjadi gadis dengan wajah muram. Dan itu sangat jelek, kau tahu itu?” Aku tersenyum kecil pada gawai dalam genggaman.⁣

“Bukankah kau tahu? Saat dalam rahim ibu, kita sendirian. Kelak, saat mati pun kita sendiri. Lalu, untuk apa kau larut dalam kesendirian dan kesepian ini. Kau lebih beruntung daripada aku. Setidaknya kau masih bisa bertengkar dengan ibumu, bisa mencari ayahmu lalu memakinya sepuasmu, dan berusaha tersenyum bercanda dengan teman-temanmu. Sedang aku?” Bibir ini tersenyum miris.⁣

“Kuharap setelah mendengar rekaman ini, kau tak lagi duduk melamun sendiri menatap hujan yang turun.” Aku tersenyum kecil seraya menyimpan rekaman suara.⁣

Dingin seketika menyergap saat perlahan aku meninggalkan raga gadis berlesung pipi ini.⁣



 ⁣
Febi intan T, Crbn 06042020

Rabu, 18 Oktober 2017

     4 tahun yang lalu Allah SWT. telah menitipkan amanahNya pada rahimku berupa janin kecil yang telah 9 bulan kami tunggu dengan ikhtiar, do'a dan tawakal, mungkin ini penantian yang memang tidak begitu lama dibanding calon ayah dan ibu lainnya...yakinlah bunda apapun dan kapanpun takdir Allah SWT. itulah yang terbaik bagi hambaNya.
Sebagai calon ibu tentu banyak yang harus dipersiapkan, mulai dari keperluan sikecil hingga pengetahuan dan wawasan orangtua untuk menjaga, merawat serta mendidik sang buah. Sejak dalam kandungan bunda senang sekali mengajak kaka berbincang-bincang, biasanya setelah menunaikan ibadah shalat subuh bunda biasakan senam ringan untuk ibu hamil dan dilanjut jalan-jalan pagi sekitar lingkungan rumah sambil ngobrol dan mengelus-elus perut diselingi nyanyi-nyayian ceria atau sekedar mengenalkan benda-benda  yang bunda lihat.
     Membangun kelekatan dengan sang buah hati bisa dimulai sejak ia berada dalam kandungan ya bunda, bisa lewat mengobrol santai seperti cerita saya tadi, memberikan ASI dan dengan cara mendongeng.
Mendongeng adalah sebuah kegiatan dengan cara bercerita yang tujuannya untuk hiburan tentang kejadian-kejadian nyata maupun imajinatif yang dapat diambil hikmah dari cerita tersebut dengan melibatkan gesture tubuh, vokalisasi, musik, atau gambar untuk memberikan kehidupan pada cerita. Mendongeng merupakan aktivitas belajar dan melatih aspek emosional dalam kehidupan anak-anak.
Mendongeng bisa menjadi aktivitas berkomunikasi kita dengan anak dengan cara yang menyenangkan, karena anak terlibat langsung dengan cara bermain peran.

Beberapa manfaat dari kegiatan mendongeng :
  • Memperkuat ikatan batin ; dengan mendongeng menjalin keakraban satu sama lain
  • Salah satu media dalam menanamkan nilai dan etika kepada anak
  • Memperkenalkan bentuk emosi dari peran yang dimainkan oleh tokoh dongeng
  • Memperbanyak kosakata
  • Merangsang daya imajinasi ; bunda bisa membuat cerita singkat dan pandulah anak untuk melanjutkan cerita tersebut berdasarkan imajinasinya
  • Mengenalkan budaya lewat cerita yang dibangun
Seringkali kita dibingungkan ingin mendongeng apa dan bagaimana ya mendongengnya, ga perlu bingung bunda...karena mendongeng bisa dilakukan dengan berbagai media. Diantaranya adalah ;
  1. Mendongeng dengan alat peraga ; kita bisa mempersiapkan alat peraga sesuai dengan cerita yang ingin kita sampaikan. Contohnya : 
    Bercerita tentang binatang laut menggunakan alat peraga yg dibuat daridari flanel dan stick kayu
    2. Mendongeng dengan cara bermain peran ; tokohnya di perankan oleh ibu, orangtua atau siapapun yang ingin ikut terlibat dalam cerita
    Bermain peran menjadi spyderman
    3. Mendongeng dengan membacakan buku ; buku bacaan bisa dipilih berdasarkan nilai dan visi yang ingin bunda tanamkan dalam keluarga  
    Membaca buku bersama ayah
         Biasanya diwaktu santai atau menjelang tidur bunda sempatkan untuk membacakan buku kepada anak, sejak dalam kandungan hingga sekarang bunda masih suka membacakan buku, dengan harapan anak-anak sejak dini dan kelak nantinya akan gemar membaca.
     Tips memilih buku bacaan :
  • Pilihlah buku berdasarkan usia anak
  • pilihlah buku dengan gambar dan ilustrasi yang menarik
  • Untuk anak 0-3 tahun pilihlah buku dari dari bahan yang tidak mudah sobek atau bunda bisa menempelkan solatip pada ujung2 atau sudut yang biasa anak pegang agar tidak mudah sobek
  • Pilihlah buku dengan kalimat yang pendek dan gambar yang mendominasi halaman buku
  • Pilihlah buku dengan cerita yang menarik yang sedang disukai anak
  • Bawalah anak ke too buku dan biarkan anak memilih buku kesukaannya namun tetap dalam pengawasan
  • Pilihlah buku yang berkualitas, dalam arti dapat mengembangkan akhlak, karakter dan kecerdasan anak
  • Bacalah terlebih dahulu agar bunda tahu konten dari buku tersebut sebelum dibacakan kepada sikecil
  Luangkanlah waktu setidaknya 20menit bersama anak ya bunda, agar anak merasakan kehadiran, kasih sayang dan cinta kita kepada mereka. semoga bermanfaat bunda...dan salam sayang untuk sikecil.


Jumat, 06 Oktober 2017

Bebas iritasi kulit dengan Lactacyd





    Hello mommy...

olahraga dipagi hari
sedia makanan bergizi
sikecil kulitnya iritasi?
atasi dengan Lactacyd baby

     orang tua pasti menginginkan anaknya tumbuh dan berkembang dengan sehat, cerdas dan bahagia. Berbagai halpun dipersiapkan agar orang tua dapat dengan seksama membuat buah hatinya tumbuh dan berkembang dengan baik. Dari hal persiapan kehamilan, kelahiran, menyusui, MPASI dan juga kesehatan sikecil termasuk kesehatan kulit.
Sebagaimana kita ketahui, bahwa kulit bayi itu berbeda dengan kulit orang dewasa. kulit bayi sangat halus dan lembut juga memiliki ph kulit yang lebih tinggi sehingga bisa mengakibatkan bakteri jahat lebih cepat tumbuh.
     Bakteri jahat ini bisa menimbulkan iritasi pada kulit bayi, yang pastinya sangat mengganggu aktivitas bermain dan tidur anak. Iritasi kulit adalah suatu masalah kulit yang dapat disebabkan karena udara terlalu lembab atau panas, debu dan bahan kimia.

Jenis-jenis iritasi kulit :
  1.  Intertrigo
                Intertrigo disebabkan karena adanya peradangan pada lipatan tubuh. Seperti dilipatan ketiak, leher, lipatan paha, bokong dan perut. lipatan tersebut menyebabkan kulit menjadi merah dan gatal. Ini terjadi karena pada lipatan kulit tidak mendapatkan udara hingga kulit menjadi lembab. Pada bayi, Intertrigo sering muncul sebagai ruam popok.

       2.  Eksim

                 Eksim atau disebut juga eksema atau dermatitis adalah peradangan yang menyebabkan pembentukkan gelembung kecil pada kulit hingga akhirnya pecah dan mengeluarkan cairan. Bila sudah parah, eksim dapat membuat kulit berubah menjadi merah hingga mengeluarkan nanah dan kerak.

        3. Dermatitis kontak

                  Dermatitis kontak adalah inflamasi atau peradangan pada kulit yang telah terpapar oleh bahan yang mengiritasi atau menyebabkan reaksi alergi. Dermatitis kontak akan menyebabkan ruam yang besar, gatal dan rasa terbakar.

       4. Biang Keringat
               
                Biang keringat jadi masalah kulit yang banyak terjadi saat musim panas. Penyebabnya adalah keringat berlebih yang tidak bisa keluar karena terjadi penyumbatan pada saluran kelenjar keringat. Pengacu timbulnya antara lain adalah debu, cuaca lembab, udara panas, pakaian yang ketat dan kegiatan bayi yang tinggi.
 
  
 Ada 3 jenis Biang Keringat  
  1. Miliaria Kristalina 


  2. Miliaria Rubra
  3. Miliaria Profunda 
    source : Fanspage lactacyd baby

    Iritasi pada kulit bayi sering terjadi, beberapa keadaan dapat menjadi pemicu terjadinya iritasi, seperti:

    * Pemakaian popok sintesis atau celana berlapis plastik yang lama tidak diganti, sering menimbulkan iritasi langsung pada kulit akibat tertimbunnya urin atau kotoran yang mengandung amonia. Tertutupnya daerah popok meningkatkan suhu maupun kelembaban di daerah lipatan bokong makin memudahkan penyerapan bahan-bahan kimia iritan tersebut. Bila berlangsung berulang-ulang pelindung kulit akan rusak, sehingga memudahkan berkembangbiaknya jamur, seperti Candida albicans.

    * Pada daerah-daerah lipatan terutama pada bayi gemuk seperti daerah leher, lipat paha, lipat siku, bila terjadi penumpukan keringat yang terlalu lama maka akan mengiritasi kulit bayi. Peradangan berulang yang terjadi juga akan diperburuk dengan berkembangbiaknya jamur seperti Candida albicans.

    * Bayi dengan riwayat keluarga alergi akan lebih sering dijumpai keluhan iritasi, seperti sisik halus di daerah kulit kepala akibat pemakaian produk kosmetika sampo ber-pH tinggi atau hair-lotion yang terlalu wangi. Dapat pula dijumpai hal serupa di daerah dada, punggung, perut akibat pemakaian minyak penghangat seperti minyak telon atau kayu putih yang digunakan terus-menerus di iklim panas.

    * Kekeringan kulit bayi akibat pemakaian berulang sabun mandi yang mengandung antiseptik. Peradangan kronis akibat kontak bahan iritan lemah akan mempengaruhi keseimbangan flora normal kulit, dengan akibat berkurangnya daya pertahanan alamiah kulit.

    * Bayi baru lahir yang mengkonsumsi susu sapi formula dengan kadar pH tinggi terkadang dijumpai kemerahan di daerah sekitar dubur.
        ( dechacare.com )
     Ini yang terjadi pada anak saya  nih mom ,saat usianya 6 bulan lebih muncul bintik-bintik merah pada kening dan badannya. orang di sekitar menyarankan untuk diberi bedak atau aci capu, tapi saya enggan melakukannya. Boleh saja memakaikan bedak pada bayi,tapiharus teliti dengan bahannya dan tidak dianjurkan memakai bedak tabur karena dapat terhirup oleh bayi dan ini berbahaya bagi paru-parunya. Pilih yang sudah terpercaya dan teruji saja ya mom...ini anak kita loh bukan boneka.Oleh karena itu saya lebih memilih mengikuti anjuran bidan yaitu menggunakan Lactacyd baby dan tetangga saya pun pernah memakaikannya untuk bayinya saat terkena eksim, dan hasilnya kulit sang anak jadi bersih kembali. Tentu saja saya tidak serta-merta mencoba, saya mencari informasi sebanyak-banyaknya tentang Lactacyd baby ini.

Seputar Lactacyd Baby


Lactacyd Baby melindungi dan merawat kulit bayi sehingga sikecil dapat bermain dengan ceria dan mommy terhindar dari rasa khawatir


     Lactacyd Baby merupakan produk dari PT.Sanofi, Sanofi di Indonesia memiliki sejarah yang panjang terhitung sejak tahun 1969. Semua kegiatannya yang berkaitan dengan produk didukung oleh tim medis dan para ahli farmasi yang memastikan bahwa efektifitas serta efek samping produk-produk Sanofi dipantau secara berkesinambungan. Kegiatan Sanofi di Indonesia dilakukan melalui afiliasinya PT.Aventis Pharma, PT. Sanofi Indonesia sendiri mempunyai visi
.“Sanofi Indonesia ingin menjadi pemimpin dan perusahaan kesehatan idaman, yang berfokus kepada kebutuhan pasien melalui penyediaan produk dan pelayanan yang inovatif”.
     Sudah terlihat jelas ya mom dari visinya sangat mengutamakan pelayanan kebutuhan pasien salah satunya dengan adanya lactacyd baby yang bahannya dari kandungan alami. Lactacyd baby ini adalah brand yang sudah terpercaya untuk menjaga kulit bayi dari iritasi ringan dan sudah teruji secara dermatologi.
Sabun lactacyd baby adalah cairan yang berguna untuk membersihkan, merawat dan menjaga kulit bayi agar tetap bersih dan juga lembut, bentuknya yang cair ini agar bisa memberikan hidrasi kulit yang lebih baik untuk sikecil dibandingkan dengan air atau sabun batang. Diformulasikan khusus dengan bahan dasar ekstrak susu lactoserum dan asam laktat, cocok digunakan untuk kulit bayi yang sensitif maupun untuk perawatan kulit bayi sehari-hari. Kandungannya yang alami berperan untuk menurunkan Ph kulit sikecil sehingga kulitnya terjaga dari bakteri. karena lactacyd baby ini mengandung susu maka bisa membuat kulit bayi tetap halus dan lembut.

Komposisi Lactacyd Liquid Baby

Lactacyd liquid baby ini tidak mengandung detergent loh mom, sehingga tidak berbusa dan tentu saja aman dipakai oleh kulit bayi yang sensitif sekalipun.


Cara pakai Lactacyd baby
  1. Siapkan bak mandi bayi
  2. Kocok terlebih dahulu lalu encerkan lactacyd baby 3-4 sndk teh (5ml) kedalam bak mandi bayi yang telah terisi air, atau bisa juga gosokkan lactacyd baby ke badan bayi seperti mandi pada biasanya.
  3. Mandikan bayi seperti biasa, gosok dengan lembut. lactacyd baby ini  bisa juga digunakan untuk shampoan
  4. Bilas dengan air bersih 
dari informasi-informasi itu lah saya akhirnya memakaikan lactacyd baby untuk anak-anak saya, dan terbukti hasilnya sangat memuaskan hingga saya ga ingin ganti ke sabun bayi yang lain. jangan lihat harganya ya mom, mungkin lactacyd baby memang terlihat aga mahal dibanding dengan harga sabun bayi yang lain tapi coba kita pikir dengan sabun yang lain yang murah kita beli berapa botol tapi hasilnya kulit bayi kita ga ada perubahan...kasihan kan mom sikecil, ada juga sabun bayi yang lebih mahal tapi hasil ga lebih bagus dari lactacyd. Dengan lactacyd liquid baby ini anak saya azka 3 hari biang keringat di punggung, perut dan keningnya hilang sedangkan adenya, Khansa yang memang biang keringatnya lebih banyak dari kening, badan, tangan dan pahanya hilang dengan pemakaian 2 botol lactacyd liquid baby ukuran 60ml. 


Ukuran dan harga Lactacyd Baby :
  • Ukuran 60ml Rp.20.000-25.000
  • Ukuran 150ml Rp.55.000-60.000
  • Ukuran 230ml. Rp.85.000-90.000
     Ukuran yang lebih kecil yaitu 60ml ini lebih praktis untuk dibawa berpergian, sedangkan ukuran lebih besar 230ml digunakan untuk berdua ade dan kakaknya jadi lebih awet. Nah yang ukuran sedang bisa ditinggal dirumah nininnya, jadi pada saat main kesana sudah siap sedia. Di kota Cirebon kebetulan saya biasa beli di Mini market dan apotek terdekat mom.

Tips agar sikecil terjaga kesehatan kulitnya
   
     Selain dengan penggunaan sabun bayi yang benar, ada beberapa tips agar kulit sikecil tetap sehat dan terjaga, diantaranya adalah :
  • Memberikan makanan gizi seimbang
  • Rutin memberikan Asi / susu
  • Memberikan sikecil lebih banyak air putih ( 6 bulan + )
  • Ganti popok secara rutin setiap 2-3 jam sekali
  • Hindari pakaian berbahan nilon
  • Hindari memakai pakaian yang terlalu ketat
  • Istirahat yang cukup ; pola tidur yang baik membuat kulit sikecil lebih sehat dan tidak kusam
  • Mandikan dengan Lactacyd liquid baby soap setiap mandi ataupun sehabis berkegiatan
Jangan mandikan bayi saat berkeringat ya mom, karena ketika tubuh sedang mengeluarkan keringat kemudian mandi, maka bisa membuat kekebalan tubuh menjadi rusak. Ciri-ciri jika sistem kekebalan tubuh sikecil bermasalah bisa dimulai dengan kaki dan tangan menjadi dingin setelah mandi atau tubuh menjadi menggigil.

Ayo mom lindungi kulit sikecil dengan Lactacyd baby dari sekarang, jangan tunggu sampai terjadi iritasi kulit dulu...karena mencegah lebih baik daripada mengobati.
 #BabySkinExpert
 #LactacydBaby


Add caption

Lebih banyak informasi di :

fanspage Lactacyd 
PT.Sanofi





Jumat, 11 Agustus 2017

Lactacyd baby ; Rahasia kulit bayi tetap sehat




Menjadi seorang ibu itu seperti awal-awal masuk sekolah...iya ga sih mom? Semuanya pengen serba baru, dari baju bayi hingga kasur baru hehe. Isi kepala pun di upgrade dengan yang baru, ya tentunya seputar sang buah hati...dari mulai ASI, MPASI, sampai cara merawat dan mendidik anak. Itu lah yang saya alami sejak memiliki anak pertama,azka 4 tahun kurang yang lalu. Hingga sekarang saya memiliki anak kedua berumur 11 bulan, saya masih terus belajar. Bukan...bukan belajar jadi ibu yang sempurna tapi belajar memberikan yang terbaik untuk sang buah hati.






Nah ngomong-ngomong soal merawat anak, anak-anak saya punya masalah kulit ringan...yaitu biang keringat 😞, hah kok bisa??😱. Usut punya usut sepertinya biangnya adalah ayahnya hohoho 😁😂😂. Ayahnya memiliki kadar keringat berlebih dan mungkin bisa jadi anak-anak saya diwarisi keringat berlebih dari ayahnya 😬😅😂. Sejak Azka umur 6 bulanan saat dia mulai MPASI mulai muncul bintik-bintik merah, ah saya pikir ini paling alergi makanan nanti juga hilang sendiri...iya sih 3 minggu kemudian hilang, tapi oh tapi bintik merah itu mulai datang lagi dan malah hampir sekujur badan 😭. Akhirnya karena ga tega lihatnya periksalah kami ke dokter dan dikasih salep. Tapi kok si bintik merah ga juga hilang 😵.
Saat itu ada tetangga tuh yang kasih saran untuk pakai lactacyd baby saat mandi ( ah, tak hanya saat NGASI yang butuh lingkungan sekitar, merawat kesehatan anak pun butuh dukungan lingkungan ya mom hehe). Al hasil berkat info dari tetangga dan bisikkan mbah google saya pun membeli lactacyd baby.


Bagaimana sih cara pakai Lactacyd liquid baby?

Untuk ade Khansa saya campurkan ke dalam air mandinya sebanyak 3 sndk teh, setelah selesai mandi ade Khansa di bilas dengan air bersih, untuk aa Azka saya pakai seperti sabun mandi biasa, di oleskan ke badannya lalu bilas (cukup beberapa tetes mom lactacyd baby liquidnya).





Karena anak-anak saya ini bisa di bilang anak kinestetik, dimana kegiatannya kebanyakan menggunakan motorik kasarnya jadi setiap kali bajunya basah oleh keringat maka harus segera diganti dan badannya di keringkan ( ga perlu di jemur kaya kerupuk ya mom hehe...cukup di lap aja ).




Kenapa harus lactacyd?

Dan yeess...kaburlah biang keringat ( tapi inget ya mom, ini ga kaya makan cabe yang pedesnya langsung kerasa...harus rutin pakainya mom biar maksimal ). Gimana ga kabur coba, selain karena Lactacyd baby ini brand internasional yang sudah terpercaya menjaga kulit dari iritasi ringan dan sudah pasti teruji secara dermatologi, Lactacyd baby juga bisa dipakai setiap hari karena kandungannya yang alami dari ekstrak susu serta formulasi dengan Ph yang sesuai dengan kebutuhan kulit bayi. Jadi bunda ga khawatir deh, kulit bayi tetap terjaga kesehatan dan kelembabannya, terpampang nyata hasilnya bukan fatamorgana 😜. Terima kasih Lactacyd baby...anak-anak saya selalu ceria, segar dan tidurpun nyenyaaaaak.


#LactacydBaby #BabyskinExpert